You must have JavaScript enabled in order to use this theme. Please enable JavaScript and then reload this page in order to continue.
Loading...
Logo Desa Tindoli
Tindoli

Kec. Pamona Tenggara, Kab. Poso, Provinsi Sulawesi Tengah

SELAMAT DATANG DI WEBSITE RESMI PEMERINTAH DESA TINDOLI KECAMATAN PAMONA TENGGARA KABUPATEN POSO PROVINSI SULAWESI TENGAH . www.desatindoli.my.id . MENUJU INDONESIA DIGITAL 2045 .

Benteng Kandela di Desa Tindoli, Jantung Pertahanan di Tengah Belantara

Administrator 06 Maret 2026 Dibaca 55 Kali
Benteng Kandela di Desa Tindoli, Jantung Pertahanan di Tengah Belantara

DI tengah belantara Desa Tindoli Kabupaten Poso yang lebat dan nyaris tak tersentuh, berdiri Benteng Kandela, sunyi, tua dan teguh. Vegetasi merambat di sekelilingnya.  Seolah ingin menyembunyikan sejarah yang disimpan rapat. Sejarah yang hanya ditemukan dalam tutur warga setempat, tidak pernah ditemukan dalam buku sejarah mainstream.

Benteng batu itu adalah susunan batuan metamorf berusia 140 juta tahun. Berdiri bahkan jauh sebelum republik digagas dalam mimpi. Asmara Bintindjaya tokoh masyarakat DesaTindoli, pada pertemuan dengan Peserta Jelajah Geopark Poso, Selasa 20 Mei 2025, di Tindoli menjelaskan Benteng Kandela bukan sekadar sisa arsitektur lama. Kandela adalah saksi bisu dan sekaligus perlawanan yang tak pernah tunduk.

Benteng ini berdiri di atas bukit dengan pemandangan bentang alam Danau Poso di kejauhan. Ditempuh tak sampai sejam dari Desa Tindoli, pengunjung akan disuguhi pemandangan yang tidak lazim bagi sebuah bangunan bersejarah.

Jangan membayangkan lokasi benteng ini seperti situs bersejarah yang terpelihara dengan gelontoran dana dari negara. Pengunjung disuguhi semak belukar. Bau humus menyergap dari segala arah.

Benteng Kandela berdiri dalam sunyi yang meresap. Dinding-dinding tuanya dirambati tumbuhan liar, akar dan menjulur menyusup di antara celah batuan, seolah alam hendak menelan kembali sejarahnya.

Pohon-pohon hutan menaunginya seolah menciptakan kanopi gelap yang menahan cahaya. Gemericik air terdenegar di bagian dasar batu. ‘’Itu adalah sumber air bersih bagi warga Tindoli,’’ ungkap Tinus Lidaya yang mengantar rombongan, pagi Selasa 21 Mei 2025.

Tengkorak Berserakan.

Malam sebelum penjelajahan dimulai, Asmara Bintindjaya mengingatkan seluruh anggota tim Geopark, sebanyak 25 orang untuk tidak mengambil apa pun dari kawasan Benteng Kandela. Termasuk satu hal penting, tidak menginjak tulang belulang yang berserakan di tanah.

“Jangan ambil barang. Jangan injak tulang-tulang di tanah,” ulang Tinus Lidaya, tokoh masyarakat setempat, sesaat sebelum para peserta melangkah masuk ke dalam kawasan hutan yang menyimpan jejak sejarah dan arwah masa lalu itu.

Di sela-sela bangunan, peti kayu tua berserakan, sebagian lapuk, sebagian terbuka dengan tengkorak manusia mengintip dari dalamnya. Bau tanah basah bercampur dengan aroma kayu lapuk dan kesenyapan hutan, memunculkan suasana mistik yang kental. Kandela bukan sekadar benteng—ia terasa seperti penjaga dunia arwah yang belum usai menyampaikan pesannya pada masa kini.

Perlawanan Suku To Buyu dengan Belanda

Bintindjaya kembali menjelaskan, di atas bangunan batu Benteng Kandela terdapat tanah datar yang menghadap langsung ke Danau Poso. Menurutnya, posisi ini menjadikan Kandela sangat ideal sebagai benteng pertahanan. Struktur batunya menjulang hingga sekitar sepuluh meter, dan di puncaknya terbentang ruang terbuka yang cukup lapang—tempat para pejuang bertahan menghadapi serangan.

Di sanalah Suku To Buyu, salah satu anak suku Pamona yang mendiami gugusan gunung di sekitar Desa Tindoli, pernah berjibaku melawan Belanda. Perang itu diperkirakan terjadi sekitar tiga dekade setelah masuknya Injil ke wilayah Poso. Mengandalkan amunisi tradisional yang disebut dum dum, Suku To Buyu bertahan sekuat tenaga. Namun mereka akhirnya takluk. Tiga prajurit mereka gugur, Lute, Lapadji, dan Ondja.

Beri Komentar
Komentar baru terbit setelah disetujui oleh admin
CAPTCHA Image

APBDes 2026 Pelaksanaan

APBDes 2026 Pendapatan

APBDes 2026 Pembelanjaan